https://radarsumsel.my.id/wp-content/uploads/2026/03/file_00000000977c71fab5567597d617a9c8-1.png
Berita  

Inovasi Pertamina EP Adera Field: Mengoptimalkan Energi, Menguatkan Kemandirian Desa

Foto bersama Ibnu Affan, Pjs. Manager Pertamina EP Adera Field, jajaran Pertamina Hulu Rokan Regional I Zona 4 dan insan pers Kabupaten PALI dalam rangkaian Media Trip di Balai Ria Pertamina EP Adera Field.

PALI, radarsumsel.my.id – Inovasi memiliki banyak wajah. Di sektor hulu minyak dan gas bumi, ia hadir melalui teknologi yang mengoptimalkan produksi. Di tengah masyarakat, inovasi tumbuh dari cara mengelola lahan, memanfaatkan sumber daya, dan mengubah sesuatu yang sebelumnya dianggap limbah menjadi bernilai.

Dua wajah inovasi tersebut tergambar dalam rangkaian Media Field Trip Zona 4 (Pertamina EP Adera Field), ketika insan media diajak mengenal lebih dekat aktivitas dan program Pertamina EP Adera Field, mulai dari inovasi operasi hingga pemberdayaan masyarakat di Desa Pengabuan, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Sumatera Selatan.

Perjalanan dimulai dari Balai Ria Adera Field melalui pemaparan overview Adera Field oleh Pjs. Manager Pertamina EP Adera Field, Ibnu Affan.

Dalam pemaparannya, Affan menjelaskan penerapan batch drilling yang sebelumnya telah diterapkan di Struktur Benuang pada 2025. Pada 2026, metode tersebut dikembangkan dengan memadukannya bersama dual completion, yang memungkinkan dua lapisan reservoir berbeda dalam satu sumur diproduksikan secara bersamaan tanpa perlu mengebor sumur baru.

Dalam sesi tanya jawab, Affan menjelaskan bahwa penerapan dual completion membutuhkan perencanaan dan kajian teknis dengan mempertimbangkan karakteristik masing-masing reservoir.

“Setiap lapisan reservoir memiliki karakteristik yang berbeda. Karena itu, penerapan dual completion harus dirancang secara cermat agar kedua lapisan dapat diproduksikan secara optimal melalui satu sumur, dengan tetap memperhatikan aspek keselamatan, keandalan, dan keekonomian operasi,” jelasnya.

Menurut Affan, pendekatan tersebut juga menjadi bagian dari upaya meningkatkan pemanfaatan aset dan infrastruktur sumur yang telah tersedia.

“Melalui optimalisasi satu sumur untuk mengakses lebih dari satu lapisan reservoir, kami berupaya meningkatkan nilai tambah dari aset yang ada sekaligus menjaga efisiensi dan keberlanjutan operasi,” tambahnya.

Dari pemaparan di Balai Ria, terlihat bahwa inovasi di sektor hulu migas tidak hanya berbicara tentang teknologi baru, tetapi juga tentang bagaimana aset yang telah tersedia dapat dimanfaatkan secara lebih optimal.

Perjalanan Media Field Trip kemudian berlanjut ke Saung PERMATA di Desa Pengabuan.

Di lokasi inilah insan media dapat melihat secara langsung pelaksanaan PERMATA (Pertanian Mandiri untuk Desa Tangguh), program pemberdayaan masyarakat yang dikembangkan melalui potensi pertanian desa.

PERMATA mendorong budidaya Tanaman Obat Keluarga (TOGA) dan sayuran organik dengan pendekatan smart agriculture. Pengelolaannya diarahkan untuk mengoptimalkan penggunaan air, pupuk, dan energi sekaligus meningkatkan pengetahuan masyarakat.

Kunjungan tersebut juga diwarnai dengan panen padi secara simbolis bersama masyarakat.

Momen itu menjadi gambaran sederhana namun nyata tentang proses pemberdayaan: lahan dikelola, pengetahuan diterapkan, masyarakat terlibat, dan hasil akhirnya dapat dipanen.

Manager Community Involvement and Development (CID) Pertamina Hulu Rokan Regional I, Iwan Ridwan Faizal, mengatakan PERMATA merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam memperkuat kemandirian masyarakat melalui pengembangan potensi pertanian desa.

“Program ini diharapkan terus berkembang, tidak hanya memberikan manfaat bagi masyarakat saat ini, tetapi juga mampu menciptakan kemandirian dan manfaat berkelanjutan bagi desa,” ujarnya.

Sekretaris Dinas Pertanian Kabupaten PALI, Ujang Syayib, menilai program tersebut sejalan dengan pengembangan pertanian berbasis potensi lokal.

“Kami berharap masyarakat dapat memanfaatkan program ini secara optimal sehingga produktivitas pertanian meningkat dan memberikan dampak terhadap kesejahteraan masyarakat,” katanya.

Di Saung PERMATA, inovasi tidak berhenti pada kegiatan budidaya. Masyarakat juga didorong memanfaatkan limbah pertanian.

Jerami pascapanen yang berpotensi dibakar diarahkan untuk dimanfaatkan sebagai bahan pakan ternak ruminansia dan bahan baku biofoam, wadah alternatif yang lebih ramah lingkungan.

Pendekatan tersebut memperkenalkan prinsip ekonomi sirkular di tingkat desa. Bahan yang sebelumnya dianggap sebagai limbah dicoba diolah kembali agar memiliki nilai guna sekaligus mengurangi potensi dampak lingkungan.

Sarbeni, Local Hero Kelompok Tani Barokah Program PERMATA, mengatakan masyarakat didorong agar mampu melanjutkan kegiatan secara mandiri.

“PERMATA kami dorong sebagai program yang berbasis pada potensi masyarakat dan lingkungan. Harapannya, masyarakat memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk mengelola pertanian secara lebih efektif dan berkelanjutan,” ujarnya.

Menurut Sarbeni, smart agriculture tidak harus menggunakan teknologi yang rumit.

“Yang terpenting adalah bagaimana teknologi dan metode yang digunakan dapat membantu masyarakat menghemat air, mengoptimalkan penggunaan pupuk, dan meningkatkan hasil pertanian,” jelasnya.

Dedi Zikrian, Senior Officer Community Involvement and Development (CID) Zona 4, menjelaskan bahwa PERMATA merupakan bentuk komitmen Pertamina EP Adera Field dalam mendorong kemandirian masyarakat melalui pengembangan potensi pertanian.

Dalam sesi Gallery Walk, Dedi memaparkan pengembangan program bersama masyarakat Desa Pengabuan, mulai dari TOGA, sayuran organik berbasis smart agriculture, hingga pemanfaatan limbah jerami.

“Melalui PERMATA, kami tidak hanya mendorong masyarakat untuk menghasilkan produk pertanian, tetapi juga membangun pengetahuan, keterampilan, dan kemandirian masyarakat agar potensi desa dapat dikembangkan secara berkelanjutan,” ujar Dedi.

Pendekatan tersebut menempatkan masyarakat bukan sekadar sebagai penerima manfaat, melainkan sebagai pelaku yang diharapkan mampu menjaga keberlanjutan program.

Hal itu dirasakan Martani, salah satu penerima manfaat PERMATA.

“Kami sebelumnya belum banyak mengetahui bagaimana mengelola pertanian dengan cara seperti ini. Setelah mendapatkan pendampingan, kami menjadi lebih memahami cara menanam, mengatur penggunaan air dan memanfaatkan limbah jerami,” tuturnya.

Ia berharap kegiatan tersebut terus berkembang dan melibatkan lebih banyak warga.

“Kalau dikelola bersama, tentu manfaatnya bisa lebih besar untuk warga,” katanya.

Dukungan terhadap keberlanjutan program juga datang dari Pemerintah Desa Pengabuan.

Supri yanto, Kepala Desa Pengabuan, mengatakan program tersebut memberikan kesempatan bagi masyarakat memperoleh pengetahuan sekaligus mengembangkan potensi desa.

“Kami menyambut baik program ini karena masyarakat mendapatkan pengetahuan dan pengalaman baru, terutama dalam bidang pertanian, pemanfaatan limbah dan pengembangan kegiatan yang bisa dilakukan secara mandiri,” katanya.

Ia berharap masyarakat dapat melanjutkan kegiatan setelah pendampingan berakhir.

“Kami berharap masyarakat dapat terus melanjutkan kegiatan ini setelah mendapatkan pendampingan. Pemerintah desa tentu akan mendukung agar program yang sudah berjalan dapat memberikan manfaat dalam jangka panjang,” ujarnya.

Rangkaian Media Trip Adera Field akhirnya memperlihatkan dua ruang inovasi yang berbeda.

Di Balai Ria Adera Field, inovasi dibahas melalui batch drilling dan dual completion, dengan fokus pada optimalisasi aset dan reservoir.

Di Saung PERMATA, inovasi hadir dalam bentuk yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat: lahan pertanian, panen padi, teknologi sederhana, pemanfaatan TOGA dan sayuran, hingga pengolahan jerami.

Keduanya memiliki satu benang merah: mengoptimalkan potensi yang tersedia untuk menciptakan manfaat yang lebih besar.

Satu sumur dioptimalkan untuk mengakses lebih dari satu lapisan reservoir. Di sisi lain, lahan dan sumber daya lokal dikembangkan untuk menghasilkan pangan, pengetahuan, keterampilan, dan peluang baru bagi masyarakat.

Dari sumur ke sawah, Media Trip Adera Field memperlihatkan bahwa inovasi tidak selalu berada di ruang teknologi.

Ia juga dapat tumbuh dari tangan masyarakat, dari lahan yang dikelola bersama, dan dari keberanian melihat sesuatu yang sederhana dengan cara yang berbeda.

Pada akhirnya, keberlanjutan bukan hanya tentang teknologi yang berhasil diterapkan, tetapi tentang manfaat yang mampu terus berjalan.

Ketika inovasi mampu menguatkan operasi sekaligus menumbuhkan kemandirian masyarakat, di situlah teknologi menemukan nilai sosialnya. (Junaidi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *